mee

1.9.11

Kucing......Puss....Puss


Aku suka banget kucing,....loving so much....
Kenapa? Karena kucing itu manis, lucu, dan menggemaskan. Kucing itu imut banget, aku sih mikirnya dia makhluk terlucu yang diciptakan Tuhan,kedua setelah aku tentunya, hahaha^^. Katanya juga kucing itu binatang yang gak setia (aku lupa denger ini dari siapa..hehe), jadi kalo kita bisa ngebuat tuh kucing setia sama kita, berarti kita emang bener2 menyayangi tuh kucing dan pasti si kucing juga ngerasain itu.
Yaa, kucingku, kesayanganku, ia mengajarkan aku banyak hal, mulai dari hal berbagi, mengasihi, dan berjuang tanpa kenal putus asa.
1.      Donald, kucingku yang satu ini udah pasti bisa ditebak jenis kelaminnya: yaap, dia jantan. Kenapa dinamai Donald? karena semenjak kecil aku suka Donald Bebek, itu majalah pertama yang dibeliin ayahku mulai dari aku belum bisa baca, cuma liat-liat gambarnya, ayah sama kakakku yang ngebacain ceritanya, sampai akhirnya aku bisa baca sendiri, horeee. *gak penting ya ni curcolnya,hehehe. Donald ini tumbuh jadi kucing yang perkasa, gendut, gede, dan lincah * ini yang ngebuat aku berpikir ulang kenapa gak kunamai Garfield aja yaak dulu,=.=". Pokoknya Donald ini jadi idaman para kucing-kucing cewek, ini tafsiranku sendiri sih soalnya banyak kucing2 tetangga yang suka maen ke rumah, dan berujung pada adanya anak-anak kucing kecil yang tahu-tahu ada di rumah disertai dengan ibunya tuh kucing yang langsung disambut dengan omelan panjang dari mama tercinta. Alhasil tuh anak-anak kucing beserta dengan ibunya yang adalah kucing tetangga, dikembalikan ke rumah tetangga oleh nyokap. Ini karena aku gak tega buat mulangin mereka, soalnya Donald udah aku anggap kayak ade’ku sendiri, jadi gimana bisa aku dengan tega ngebuang ponakan-ponakanku sendiri,huhuhu.T.T. Anehnya tetangga-tetangga dengan lapang dada menerima kucingnya dikembaliin plus dapat bonus bayi-bayi kucing kecil, yang lebih takjub lagi, mereka gak nuntut minta pertanggungjawaban dari Donald, horeeee*dasar majikan dan kucing sama2 gak bertanggung jawab,hehe.
Awalnya sempet nangis-nangis, ngebujuk mama buat nerima tuh menantu kucing beserta dengan bayi-bayi kecilnya, tapi seberapa keras aku nangis dan memohon, nyokap justru semakin keras dan kekeuh bilang gak*hiks, ini yang bikin aku akhirnya gak mudah percaya lagi sama sinetron-sinetron di televisi yang melankolis, terbukti air mataku gak berhasil meluluhkan hati nyokap, apalagi kalo ada cerita office girl menikah sama dokter di tempat di mana ia bekerja, itu tambah bikin aku gak percaya lagi*haaah, pasrah. Alesan nyokap adalah rumah kita gak cukup gede untuk menampung semua kucing, udah gitu katanya ngurus 1 kucing aja susah apalagi ditambah ngurus anak kayak kamu, plus anak2 kucingnya, cukup, huaaahuaaaL, mendengar kata-kata ini aku miris banget, harusnya kan kebalik kalimatnya, ngurus 1 anak kayak kamu aja udah susah, ditambah 1 kucing tambah repot apalagi mau dapet anak-anak kucing juga. Kalo kalimat yang tadi kesannya nyokap lebih ngurusin si Donald daripada aku, huaahua.
Tapi tak apalah, itu tadi sedikit cerita tentang Donald*padahal udah 2 paragraf yaa =.=”.haha, maaf menurutku deskripsi tentang Donald sebenarnya begitu banyak, tak terbatas melalui kata,..eheeemJ.
Masuk ke inti cerita, seperti kebiasaan setiap hari setelah sarapan pasti Donald selalu maen entah ke mana aku gak tahu (biasa kucing gaul kayak yang punya, hahaha, asiik), dan baru pulang siang serta sore saat tiba waktunya makan,*itu makanya waktu kecil aku pernah berdoa ke Tuhan, pengen jadi kucing aja, karena gak perlu ke sekolah, dunianya hanya sebatas makan, tidur dan maen, kata upin-ipin sih, “enaknyoooo”. Hingga pada suatu hari saat makan siang udah siapin si Donald ini gak muncul2 juga, pikiran kami masih positif mungkin si Donald lagi jatuh cinta jadi lupa waktu makan (kata orang kan jatuh cinta bisa ngebuat orang lupa segalanya:termasuk waktu makan, tapi yang aku heran kenapa kebanyakan pasangan yang pacaran justru lebih banyak menghabiskan waktu berdua untuk pergi makan, ckck). Sore hari tiba-tiba si Donald pulang lewat pintu belakang (ini bukan seperti kebiasaannya, mana gak pakai bilang salam dulu,huuuh, gak sopan) dengan kondisi yang udah terhuyung-huyung, dan mulut penuh busa. Sontak kami kaget,…..yaaa, fakta menyedihkannya “Donald keracunan” tapi keracunan apa, itu yang sampai saat ini masih jadi misteri. Donald lantas aku gendong, aku lap busa-busa yang ada pada mulutnya dengan tissue, gak henti-hentinya aku nangis, bagaimana gak?? Donald, adik kucingku pulang dengan keadaan hampir sakaratul maut. Akhirnya dengan saran dari mama dan kakakku, aku kasih Donald susu, karna katanya susu bisa menetralisir racun dan memberi kekuatan. Aku jadi inget, dulu waktu aku kecil, Donald suka banget aku suapin susu putih vanilla sama susu kedelai milik ayah secara bergantian, * jadi sedih ingetnya,inget kenangan itu dan inget omelan-omelan ayah ketika tahu ternyata ayah harus rela berbagi susu dengan Donald.T.T. Aku lalu baringkan Donald dalam palungan, eh salah pada handuk yang udah gak kepakai, aku balutkan dibadannya biar dia gak kedinginan* ini karena kata orang, seseorang yang menghadapi sakaratul maut rasanya pasti dingin, tapi aku masih ragu juga ini berlaku untuk kucing juga atau gak. Aku tungguin Donald, hingga beberapa saat kemudian ia tertidur, ya tertidur untuk selamanya. Donald, adik kucingku yang kukasihi meninggalkan kami dengan sejuta kenangan tentangnya.
Donald, tak hanya sebagai adik, ia juga sahabatku, saat aku bertengkar dengan kakakku, dimarahin mamah, ayah, seneng atau sedih,  Donald yang selalu ada, meskipun dia gak bisa ngomong, dia jadi pendengar yang begitu baik, seakan-akan dia tahu apa yang sedang aku ceritakan padanya. Donald yang selalu membangunkan aku di jam 4 pagi, memaksaku untuk jalan-jalan bersama di halaman depan, gelap, matanya tajam tapi teduh, cahayanya merah, itu yang selalu aku ingat. Donald yang selalu aku banggakan pada teman2 TK dan SD ku, Donald yang menyambutku ketika baru datang dari sekolah, dan yang selalu kumintai doanya saat aku hendak ulangan di sekolah. Aku merindukannya.
Mungkin Donald hanya seekor kucing, tapi aku belajar banyak darinya( kecuali masalah menghamili kucing lain dan gak bertanggung jawab,haha), tentang kesetiaan dan kesediaannya untuk selalu ada buatku. Aku terharu ketika melihat ia berjalan dengan terhuyung-huyung masuk ke rumah dan akhirnya tumbang di depan pintu. Pasti untuk melakukan perjalanan pulang sampai ke rumah itu gak mudah, sangat gak mudah bahkan dan butuh perjuangan yang sangat berat, tapi aku bangga Donald masih inget aku, inget kami yang mungkin udah dia anggap jadi keluarganya. Yaa, mungkin Donald melakukan perjuangan berat itu hanya ingin berpamitan kepada kami, “keluarganya”, untuk say goodbye mungkin dia gak bisa, tapi rasa gak harus selalu tersalur melalui kata bukan? Aku, kami sekeluarga tahu, Donald begitu mengasihi kami seperti kami juga mengasihinya. Dan pada dasarnya Donald gak lari dari tanggung jawab kok, tiap kali aku ke rumah tetangga, Donald selalu ada di situ nemenin bayi-bayi kucingnya.
Misteri kematiannya memang belum terungkap, apa Donald sengaja minum racun karna mamaku gak nyetujuin hubungannya dengan kucing tetangga meski mereka terlanjur udah punya anak, kayak di Roman Romeo dan Juliet gitu?, entahlah aku gak tahu. Tapi kata mama, Donald kemungkinan besar minum air dari sawah yang terletak beberapa blok dari rumah kami yang baru terkena semprotan persitida.
Donald akhirnya aku makamkan di kebun milik tetangga di sebelah rumah, ku tandai dengan tiga susunan batu dan taburan bunga boegenvil di atasnya.*mungkin kalo tetangga yang punya kebun sampai tahu, marah-marah juga dia, soalnya tanpa izin kebunnya udah dijadiin lahan pemakaman kucing. Selamat jalan Donald, semoga bahagia di surga sana,…kami menyayangimu. J

2.      Kucing keduaku ini namanya, Pussy. Haha, pasti nyangkanya bakal dimanain nama tokoh2 Disney, keluarga Donald Bebek lagi yaa. Kucing ini warnanya putih, aku dapet dari saudara yang melihara kucing juga. Awalnya sih nie kucing selalu berisik terus awal-awal di rumah kami*mungkin dia ngrasanya kami culik, dan kami pisahin dari ibunya kali yak,hehe. Tapi lama-kelamaan Pussy ini jadi kucing yang nurut juga, karna aku udah SMA waktu itu, aku jadi gak begitu hectic lagi ngurusin kucingnya, cuma tugas ngasih makan emang masih jadi tanggung jawabku. Seperti kucing2ku sebelumnya (sebenernya ada banyak kucingku selain Donald, dan akhirnya aku punya Pussy ini), ia selalu menyambut aku di depan pintu saat pulang dari sekolah begitu sebaliknya saat aku berangkat sekolah pun ia selalu mengamati aku dari kursi teras depan. Tak hanya aku, kebiasaan itu selalu ia lakukan ketika ayah dan mama akan berangkat ataupun pulang dari kantor.
Hingga pada suatu hari, aku melihat ada kucing asing sering datang ke rumah pada waktu jam makan baik pagi, siang ataupun malamnya pussy. Awalnya sih aku nanggepinnya biasa, mungkin emang cuma kucing liar yang gak keurus dan mau numpang makan doang, tapi lama2 akhirnya aku sebel juga,kan dia yang numpang makan, makannya harusnya nungguin si Pussy dulu kan, baru habis itu tuh kucing liar yang makan, ternyata kenyataannya gak gitu, tuh kucing liar dulu yang makan baru akhirnya si pussy yang makan, lama-lama akunya yang dongkol. Awalnya sih emang gitu, pussy dulu yang makan baru tuh kucing liar, tapi setelah itu malah kebalikannya, aku sih dulu nganggep si pussy pasti udah diancam sama tuh kucing liar, tapi kecurigaanku ini gak pernah terbukti, karena apa? Karena aku gak pernah bisa ngerti bahasa kucing termasuk apa yang mereka obrolkan, hiksT.T. Dan sesuai dengan hukum di negeri ini, asas praduga tak bersalah harus tetap ditegakkan juga kan. Akhirnya, aku mencoba untuk berpikir positif.
Satu hal lagi yang bikin aku sebel sama tuh kucing liar adalah dia itu masih kecil, dekil, kurus, tapi hamil, huff. Salah kayaknya dia gak hamil, tapi perut bagian bawahnya agak menggelambir gitu, menurut analisisku sih tuh kucing semacam kayak mengidap kanker rahim gitu (haha, kalo salah mohon dimaafkan, maklum bukan dokter hewan). Eng ing eng, kesimpulanku jatuh pada dia adalah kucing cewek nakal. Ada rasa kasihan juga sih, tapi tetep aja aku mesti waspada, takut kucingku kena pengaruh buruk juga, hehe. Siaga satu. Pernah sih aku ngadu ke mama, tapi kata mama biarin aja, katanya asal tuh kucing gak ganggu, maksudnya gak nyuri sesuatu gpp, plus kata mama ngasih makanan ke mereka yang yatim piatu kan dapat pahala*padahal gak tahu ni kucing udah yatim, piatu, apa yatim piatu, ato cm ngabur dari rumah karna takut ketahuan hamil sama ortunya, aku gak tahu, dan bingung juga mau nyari tahu kemana.
Singkat cerita*padahal dari tadi ceritanya udah panjang yak,hehe. Ke dua kucing ini saling hidup rukun, dan rutinitasnya tetap sama, tuh kucing liar makan duluan baru si pussy yang akhirnya makan. Dari Pussy aku belajar tentang keikhlasan dan indahnya berbagi. Seperti yang mama ajarkan, memberi itu bukan dari sisa, tapi dari yang terbaik yang kita punya. Terima kasih Pussy, ^^.

3.      Si Kucing Liar, Yaa, khirnya dengan restu Allah eh salah maaf, itu lagunya Pasha sama Rossa ya,hehe. Dengan izin mama, tuh kucing liar gak hanya berbagi makan dengan pussy tapi juga berbagi rumah. Awalnya sempet sebel sih, tapi kayak Pussy aku belajar menerima,J. Masalah kanker rahimnya*tafsiranku sendiri, itu makin kelihatan, gelambir diperutnya makin gede, dan itu buat dia susah jalan (sedih banget waktu liat tuh kucing yang karna bingung mau dikasih nama apa, akhirnya aku panggil Puss aja, soalnya aku panggil meong dia malah bales bilang meong ke aku*jadi malah panggil-panggilan, kan gak lucu, hehe).
Alkisah pada suatu subuh, terdengarkan bunyi suara ngeongan yang sangat keras. Sontak aku bangun dari tempat tidur dan menuju garasi samping tempat suara itu berasal. Terkejut bukan main aku, ayahku masuk ke garasi dari halaman depan dengan si kucing liar itu ditangannya, tubuh kucing itu lemas, tergolek tak berdaya. Ternyata dari cerita ayah, tuh kucing seperti rutinitas pagi setiap harinya selalu ngikutin ayah ketika buang sampah di seberang jalan, karna hari masih gelap ditambah tuh kucing jalannya lamban, akhirnya ia ditabrak motor yang lewat, si puss malang itu jadi korban tabrak lari*sial untuk tabrak lari yang satu ini aku bingung mau lapor ke mana. Akhirnya, lagi-lagi karna aku bukan dokter hewan, aku bersihin luka luarnya ( luka luarnya sedikit banget, perkiraanku sih, luka dalemnya yang parah ), kasih betadine lalu aku balut kain kasa, tidurin di handuk, aku suapin makan dan susu* lagi-lagi aku bingung mau nagih obat apa, gak pernah beli obat kucing soalnya. Tiap kali aku pegang pangkal padanya, pasti mengeong-ngeong (bukan mengaduh yaa,), kesakitan, kakinya patah (itu hipotesisku)sementara. Akhirnya seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menyayangi juga kucing pendatang itu, apalagi liat perjuangannya buat terus bertahan hidup dan kadang-kadang suka ngesot buat pindah tempat ( ini jujur yang bikin aku ngeri, jangan2 ni kucing di dunia perkucingan jadi suster* suster ngesot kaleee :d). Aku pijitin tiap hari, ganti perban sama suapin dia makan.
Sampai akhirnya tiba hari aku harus berangkat ke Depok ( yaa, ini hari pertama, permulaan semester pertama aku kuliah) .Rasanya sedih banget harus pisah dari ortu. Tapi hidup harus terus berjalan, bukan?demi masa depan yang lebih cerah, akhirnya aku mantapkan hati ke Depok. Jujur si Pussy, kucing pendatang itu yang memberiku inspirasi untuk terus berjuang, mesti dalam situasi sulit dan berat sekalipun. Meski kelihatannya mustahil untuk ada harapan, kenapa? Karna hidup memang layak untuk diperjuangkan. Bukankah Tuhan sendiri yang memberikan dan mempercayakan kehidupan ini kepada kita untuk kita jalani, maka jangan sia-siakan, berikan yang terbaik untuk Tuhan.
Hingga pada suatu malam, mama telpon kalo tuh kucing sekarang udah bisa jalan lagi, dan perutnya juga udah mulai mengecil, meski terkadang jalannya msih terpincang-pincang. Aku tentu kaget bukan main dan senang begitu ngedenger kabar itu. Ya, buah dari perjuangan, usaha tanpa kenal menyerah, dan juga berserah pada Tuhan selalu manis, harapan itu masih ada bagi mereka yang mau terus percaya. Aku pun yakin, suatu saat nanti, hasil dari perjuangan ini (termasuk masa-masa kuliah) akan berbuah dengan manis juga. ^^.

Terimakasih kucing-kucingku,…inspirasiku…I love u all,..^^,
Kalo kucing aja bisa, kenapa KITA nggak ?? J

27.8.11

Bukan Aku

“ Andre nya ada Tante”, sapa ku lembut pada Tante Nia, mamanya Andre, yang sedang sibuk menyemprotkan desinfektan pada koleksi tanaman anthurium-nya.
“ Oh, Dinda, masuk aja Din, lama kamu gak ke sini. Sibuk ngurusi kuliah ya? Tunggu sebentar ya, biar tante panggilin Andrenya dulu, dasar pemales tuh anak, paling-paling lagi ngurusin ikan koi di aquariumnya. Gak tahu ni, Din, menurut tante, akhir-akhir ini dia jadi anak autis yang kerjaannya sehabis kuliah cuma berkutat sama ikan. Kamu sih jarang main ke sini, paling gak dia kan jadi ada temen ngobrol “manusia“nya, daripada tiap hari ngomong sama ikan melulu”, cerocos tante Nia panjang lebar, sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah, sementara aku hanya mendengarkan cerocosannya tadi sambil duduk gugup di teras depan.
Ku dengar degup langkah kaki mendekat. Aku mendadak takut. Keberanian yang semula berkobar menuntunku ke tempat ini mendadak lenyap entah ke mana.
Terdengar decitan kursi ditarik,” Ada apa?”, suara itu memecah keheningan di antara kami.
Aku terdiam, terlalu sibuk bergumam dengan pikiranku, serangkaian kalimat yang sudah ku persiapkan sejak dari rumah tadi, mendadak hilang, menguap bersama udara. Berjuta kata sudah berjejal ingin di muntahkan dari mulutku. Namun, lagi-lagi bibirku terkatup rapat. Aku diam, kelu, membisu.
Andre, menarik tanganku, dan dalam sekejab kami sudah berada di dalam mobil camry hitamnya. Mobil ini sungguh penuh kenangan bagiku. Di sini pertama kali dia menyatakan perasaannya, berjanji untuk terus menyayangiku, dan sekarang di sini pula lah, aku harus mengakhiri ini semua. Pergumulanku yang menguras pikiran dan  meneteskan buliran airmataku.
Mobil itu akhirnya menepi di sebuah jalanan lengang, dekat hutan kota, tak ku tahu tempat itu secara jelas, tapi sedikit perasaan tenang kini mulai menyergapku. Perlahan ku dapati kembali keberanian yang semula membimbingku menemui Andre, meski dadaku juga dipenuhi rasa sesak yang luar biasa.
“ Berhari-hari aku telpon kamu, kamu gak pernah angkat, aku sms gak kamu bales, aku samperin kamu ke kampus, kamunya gak ada, aku ke rumah kamu, kamunya gak ada juga. Ada apa dengan kamu Din?”, katanya sembari menatapku, bergegas ku alihkan pandanganku ke depan mencari pijakan yang selama ini aku andalkan.
“ Kamu udah gak sayang sama aku, atau kamu lagi gak pengen diganggu? Bilanglah Din,...jangan diam dan semakin ngebuat aku jadi gak ngerti kayak gini”.
Ku genggam tanganku erat-erat, mencoba sejenak merasakan debaran jantungku. Meyakinkan diriku sendiri bahwa ia masih menempati tahta tertinggi di hatiku, yang entah sampai kapan sosok lelaki berkulit putih, beramput hitam legam, dan berlesung pipi itu, mampu ku hapus dari ukiran hatiku, sementara setiap inchi sel tubuhku seakan sudah sangat terbiasa dengan siluet wajahnya.
“Ndre,....maafin aku kalo akhir-akhir ini aku agak ngejauh dari kamu, bukannya aku gak sayang sama kamu, kalo ditanya apa aku masih sayang sama kamu, jelas aku jawab iya. Sampai saat ini kamu satu-satunya lelaki yang bisa ngebimbing aku melewati setiap badai dalam hidupku dengan sabar, kamu satu-satunya orang yang tetap mau menghargai dan memberi kepercayaan kepada ulat seperti aku, bahwa aku sanggup menjadi kupu-kupu, meski jujur, aku sendiri masih agak ragu, apakah aku sanggup melewati fase kepompongku tanpa kamu”.
Mendadak ku peluk erat Andre mencium aroma tubuhnya selama mungkin. Ya mungkin ini memang untuk yang terakhir kali.
Sementara Andre,...hanya memandangku dengan tatapan bingung.
“Andre, maaf aku harus pergi”, kataku seraya memeluknya sekali lagi dan meninggalkannya, berlari secepat mungkin.
Sekilas ku lihat Andre, hendak berlari menyusulku. Namun, diurungkan niatnya, dan menyerah, menutup kedua wajahnya, lalu berbalik masuk ke mobil.
Air mata pun tak mampu ku bendung, aku menangis dalam ketidakberdayaan ku melawan cinta. Aku sangat menyayanginya, tapi ada sesuatu di dalam hatiku yang merasakan kelegaan luar biasa ketika aku melepaskannya. Ku telusuri jalan sepanjang rumahku dengan senyum tersungging, aku merasa telah melakukan hal yang seharusnya ku lakukan, meski pedih menggerogoti batin dan jiwaku.
Sesampainya di kamar, ku dapati sebuah message dari Andre,...”  Dinda, aku gak tahu, apa arti dari semua ini, tapi jika ini menurutmu yang terbaik untuk kita, aku terima. Meski terlampau sulit untukku,....Aku akan mencoba mengerti meski tanpa ku ketahui, aku mencoba paham, dalam usahaku mencari alasan,.....
Kubaca message itu, dengan air mata mengalir. Alasan itu sudah ada Ndre, meski terkadang kita mencoba untuk mengabaikannya, bisikku dalam lirih.
***
Sore itu hujan deras, petir menyambar tanpa ampun. Kilat terus memainkan cahayanya. Ku pandangi tetesan air yang lebat mengalir dari langit lewat jendela kamarku. “Sial”, gumamku pelan. Hari ini aku rencananya ingin ke rumah Andre, menjenguknya yang udah dua hari ini sakit flu dan demam gara-gara nekat main basket di lapangan outdoor.
“Kamu udah baikan kan Ndre? Pinguin masih butuh lemak buat menghangatnya tubuhnya gak? Rencananya aku mau ke rumah kamu, udah aku masakin sop ayam kesukaan kamu, tapi ujan deres ni Ndre. Gimana ya?”, ketikku singkat pada layar hp dan segera memencet tulisan send secepat mungkin”.
Dua jam berlalu, dan Andre tak jua membalas smsku. Ku telpon tapi nomor hp nya selalu tidak aktif. Berbagai spekulasi dan pikiran akan kejadian buruk yang menimpa Andre terus mengusik benakku.
Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan mobil, berusaha melawan phobiaku berkendara pada saat hujan deras. Sejak remaja aku trauma dengan hujan, dengan kilatnya yang membuat aku silau, dengan suara gemuruh petirnya yang mengantarkan, Angga, kakak semata wayangku menemui tangga surganya, pada kecelakaan lalu lintas  lima tahun lalu. Saat itu dokter yang bertugas merawat Kak Angga adalah Paman Sammy, ayah dari Andre. Dari situlah, kami saling mengenal satu sama lain, dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius, dari dua tahun yang lalu.
Sekitar satu jam aku telah sampai di rumah Andre, perasaan takut, gemetar, masih melekat erat meski sekarang posisiku bukan berada di belakang kemudi. Namun aneh, saat aku sampai di rumah Andre, kata mbok Nem, pembantu di rumah Andre, Andre sudah keluar sejak siang saat hujan deras tadi. “Mbok tahu gak mas Andre nya pergi ke mana?”,tanyaku pada mbok Nem.
“Mas Andre nya masih sakit ya mbok? Kok dia malah keluar?”, tanyaku kembali dengan harap-harap cemas.
“Waah, mbok juga gag tahu non, mungkin urusan yang penting banget ,soalnya kesehatan mas Andre belum sembuh bener, tadi siang panas tubuhnya masih tinggi”.
“Ya udah, saya tunggu mas Andrenya aja deh mbok. Mbok Nem nerusin kerjaan di belakang aja gak papa kok, ntar saya malah ganggu mbok lagi”, ucapku pada mbok Nem lalu mencoba menenangkan pikiranku dengan membaca majalah yang ada di ruang tamu.
“Baik non kalo begitu, mbok ke belakang dulu ya,..kalo ada apa-apa panggil mbok aja”, jawab Mbok Nem lalu meninggalkanku sendirian.
Dua jam berlalu, sosok yang ku tunggu akhirnya datang juga.
“Ya ampun kamu dari mana aja sih Ndre? Kamu gak papa kan?”, kataku sambil menyambut Andre yang terhuyung masuk ke dalam rumah dalam keadaan basah kuyup.
Belum sempat ia menjawab pertanyaanku, tubuh lemasnya dan akhirnya tumbang. Andre pingsan dalam pelukanku.
Semalaman kujagai Andre tanpa sedetikpun melepaskan pengawasanku darinya, sungguh aku begitu mengkhawatirnya. Suhu tubuhnya yang tak kunjung turun malah semakin meningkat, membuatku semakin cemas.
Hingga pada akhirnya, di saat mataku mulai lelah terjaga. Andre terus menggigau, mengucap satu nama yang membuat batinku semakin remuk. Hati perempuan mana yang tak akan terluka saat kekasih yang dicintainya ternyata begitu memikirkan wanita lain selain dirinya. “Sebegitu pentingkah Okta dihidupmu Ndre? Jika itu memang dapat membuat kamu lebih baik, aku ikhlas demi kamu”, ucapku sendu disertai hati yang bagai diiris sembilu. Dalam hati aku berjanji akan merelakan Andre dengan Okta, saat Andre sembuh nanti, toh,…ternyata bukan aku yang dibutuhkan Andre saat ia tergolek tak berdaya seperti sekarang ini. Bukan namaku yang disebut meski aku ada dan terjaga untuknya.
Dan meski ketika Andre sembuh ia jujur padaku mengenai kepergiaannya bersama Okta, karena waktu itu Okta sedang dirundung masalah dengan mantan kekasih barunya yang suka meneror dan main kasar padanya. Sudah kubulatkan tekadku untuk melepaskan Andre dari hatiku. Meski akan terasa begitu berat untukku.
***
Mas Andre, ini saya temukan di jaketnya mas Andre,...untung belum saya masukin mesin cuci, pasti barang penting, wong bentuknya aja berkilau-kilau gitu kok”, Kata mbok Nem. Andre terkejut menerima bungkusan CD itu, seingatnya ia tak pernah memasukkan CD ke dalam jaketnya, setelah mengucapkan terima kasih kepada Mbok Nem, Andre bergegas masuk kamar, dan memasukkan CD itu ke dalam disk player laptopnya.
Tak lama muncul, tayangan seseorang yang amat di kenalnya,....”Dinda”. Pikirannya tertuju pada kejadian saat Dinda memeluknya sambil berlinang air mata di mobil kemarin siang.
“ Terima kasih untuk semua perhatian kamu, calon dokter muda terhebat yang pernah ku temui. Berlaksa syukur ku  ucap kepada-Nya, karena sudah mengijinkan aku untuk mengenalmu lebih dekat. Terima kasih karena sudah mau menjadi pantai yang selalu menerima ombak seperti aku untuk kembali pulang. Terima kasih karena telah mau menjadi warna ketika aku merasa hampa,...entah hitam, merah, abu-abu, ataupun ungu,...ijinkan aku menyimpannya dan menggengggamnya erat-erat. Jangan ada air mata Ndre,....matamu terlampau indah untuk meneteskannya,....dan jika aku boleh meminta, biarlah, airmata takkan pernah ada dalam hidupmu.
Perlahan potret wajah itu hilang, di gantikan oleh sayup-sayup suara band samsons dengan lagunya, ‘ Bukan diriku”.....
Setelah ku pahami, ku bukan yang terbaik yang ada di hatimu, tak dapat ku sangsikan, ternyata dirinyalah yang mengerti kamu, bukanlah diriku,...Kini maafkanlah aku, bila ku menjadi bisu kepada dirimu. Bukan santun ku terbungkam, hanya hatiku terbatas tuk mengerti kamu, maafkanlah aku. Walau ku masih mencintaimu,ku harus meninggalkanmu, ku harus melupakanmu, meski hatiku menyayangimu, nurani membutuhkanmu, ku harus merelakanmu. Dan hanyalah  dirimu, yang mampu memahamiku, yang dapat mengerti aku, ternyata dirinyalah, yang sanggup menyanjungmu, yang ramah menyentuhmu, bukanlah diriku,.....”
Bersamaan dengan berakhirnya lagu itu, wajah Dinda kembali hadir menyunggingkan senyum, sekaligus air mata bahagianya, karena telah mampu melepaskan beban yang selama ini coba ia pendam.
“ Seberapa besar pun, kamu sayang sama aku, aku tahu, bukan aku yang sanggup benar-benar memahamimu Ndre, aku tahu, kamu masih terlalu sayang pada Okta, pada wanita yang di sana pertama kali perahu kasih kamu berlabuh, dan meski kamu sudah berjuang untuk kembali melanjutkan pelayaran denganku, aku juga tahu, bahwa sesungguhnya jangkar kamu masih terpaut dalam di sana. Coba tengok hati kamu Ndre, yakinkan aku bahwa aku benar, agar apa yang aku lakukan ini tidak sia-sia. Terimalah Okta kembali karena sekarang tak ada alasan bagimu untuk menolaknya lagi”. Teruntuk Andre, pinguin kecilku yang telah rela membagi kehangatannya dengan ulat seperti aku,.....terima kasih banyak.
Andre menangis sejadi-jadinya, baru kali ini ia merasakan rasa yang benar-benar sulit ia ungkapkan, antara kaget, lega, dan haru bercampur aduk dalam hatinya.
Perlahan, dibukanya dompetnya, dibalik foto senyum Dinda yang menghiasi tempat foto selama kurang lebih 2 tahun ini dalam dompetnya, terdapat wajah cantik Okta yang ternyata sampai saat ini tak mampu dilupakannya.
Seraya mencium foto Dinda untuk yang terakhir kalinya, Andre kembali menangis,....” Terima kasih Dinda”
***
Dan kini Dinda tahu, bahwa ia telah melakukan hal yang benar, setelah 1 tahun ia melepaskan Andre, sebuah undangan bernuansakan ungu, datang di kostnya.
Sebuah surat terselip di dalamnya, “ Untuk ulat yang kini telah jadi kupu-kupu, terima kasih untuk segalanya, ternyata seekor ulat lebih bisa bertahan dalam dingin daripada seekor pinguin, satu hal yang kamu harus tahu, kamu wanita terhebat yang pernah ku temui. No one other like you......
Dinda tersenyum membaca surat itu, sekaligus merasa remuk pada saat yang bersamaan.
Namun, sekali lagi aku tahu, bahwa aku sudah melakukan hal yang benar,.....1 tahun lalu.
Ditemani gerimis malam, Depok, Desember 2010.

Lama akhirnya bersua kembali juga

Huff, lama ternyata gak buka-buka ini blog,...mau di apain yaa?? malam2 emang selalu bikin nge-galau. Kyaknya blog ini bakal lebih digunain buat nampung cerita-cerita yang pernah aku buat. So buat yang mampir ke laman blog ku,..silahkan saja,..mangga-mangga, dimohon saran-sarannya juga yaa,...^^. Terimakasih.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...